MANGGARAI TIMUR,Klikbacanews.id – SMK Muhammadiyah Manggarai Timur menggagas pembangunan Asrama Inklusif sebagai solusi untuk membuka akses pendidikan yang lebih merata bagi siswa-siswi yang berasal dari wilayah pedalaman di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Program tersebut digagas untuk menjawab berbagai tantangan yang selama ini dihadapi anak-anak pedalaman, mulai dari jauhnya jarak tempuh menuju sekolah, medan yang sulit, hingga keterbatasan tempat tinggal yang aman selama menempuh pendidikan.
Kepala SMK Muhammadiyah Manggarai Timur, Wahyudin, S.Kom, mengatakan pembangunan asrama bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi menjadi wujud nyata komitmen sekolah dalam memperjuangkan keadilan pendidikan bagi seluruh anak bangsa.
“Anak-anak dari pedalaman memiliki semangat belajar yang tinggi. Yang menjadi kendala justru akses pendidikan akibat kondisi geografis dan keterbatasan tempat tinggal. Karena itu, kehadiran asrama menjadi kebutuhan yang sangat mendesak,” ujarnya.
Menurut Wahyudin, keberadaan asrama akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi peserta didik sehingga mereka dapat lebih fokus mengikuti proses pembelajaran tanpa harus dibebani persoalan tempat tinggal maupun kebutuhan hidup sehari-hari.
Selain menjadi tempat tinggal, asrama juga akan dikembangkan sebagai pusat pembinaan karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan peningkatan kompetensi siswa melalui berbagai kegiatan belajar di luar jam sekolah.
Yang menarik, konsep asrama tersebut mengusung prinsip inklusif, yakni terbuka bagi seluruh siswa dari berbagai latar belakang agama dan suku. Baik siswa muslim maupun nonmuslim akan memperoleh kesempatan yang sama untuk tinggal dan belajar bersama.
Wahyudin menilai konsep tersebut menjadi implementasi nyata nilai-nilai toleransi dan kebinekaan yang selama ini dijunjung tinggi Muhammadiyah.
“Di asrama ini anak-anak akan belajar hidup bersama, saling menghargai perbedaan, dan membangun persaudaraan. Toleransi tidak hanya diajarkan dalam teori, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sebagai sekolah kejuruan, SMK Muhammadiyah Manggarai Timur juga akan memanfaatkan keberadaan asrama untuk membangun ekosistem pembelajaran yang lebih optimal. Waktu di luar jam pelajaran dapat dimanfaatkan untuk diskusi, praktik keterampilan, penguatan literasi digital, hingga pembinaan kewirausahaan.
Melalui pola pembinaan tersebut, sekolah berharap lulusan SMK Muhammadiyah Manggarai Timur tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menjadi pelaku usaha dan agen perubahan di desa asalnya.
Menurut Wahyudin, investasi terbesar dari pembangunan asrama bukanlah gedung yang berdiri megah, melainkan lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu memutus mata rantai kemiskinan di wilayah pedalaman.
Ia berharap pembangunan Asrama Inklusif mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, Persyarikatan Muhammadiyah, dunia usaha, alumni, hingga para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pendidikan.
“Setiap dukungan yang diberikan akan menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak pedalaman. Kami ingin memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan hanya karena persoalan jarak dan keterbatasan ekonomi,” tutup Wahyudin.
(*)













