TAKALAR,Klikbacanews.id – Kepala SMP Negeri 2 Takalar, Rusdianto, meluruskan informasi yang berkembang terkait adanya dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolahnya
Rusdianto menegaskan, pihak sekolah tidak pernah menyampaikan bahwa siswa mengalami keracunan. Keluhan yang diterima sekolah adalah adanya sejumlah siswa yang mengaku mengalami sakit perut setelah mengonsumsi makanan.
“Tidak ada bahasa keracunan, Pak, karena memang tidak ada dari kami,” tegas Rusdianto saat memberikan klarifikasi.
Menurut Rusdianto, istilah keracunan tidak bisa serta-merta digunakan tanpa adanya indikasi atau pemeriksaan yang memastikan kondisi tersebut. Ia menjelaskan, dalam kejadian yang dilaporkan ke pihak sekolah, tidak ditemukan kondisi seperti siswa pusing, pingsan atau gejala berat lainnya.
“Kalau saya begitu dikonsumsi, mungkin orang atau anak-anak pusing, pingsan, begitu kan? Jadi tidak ada yang kejadian begitu kemarin,” jelasnya.
Meski demikian, pihak sekolah tetap menanggapi serius laporan dari siswa. Rusdianto mengungkapkan, awalnya sekitar 20 siswa dilaporkan meminta izin pulang karena mengeluhkan sakit perut. Namun, berdasarkan pendataan sementara, jumlahnya kemudian mencapai sekitar 28 hingga 29 siswa.
“Data tadi bukan 20, sudah 28 atau 29 orang,” ungkapnya.
SMPN 2 Takalar sendiri saat ini memiliki sekitar 1.040 siswa. Karena itu, menurut Rusdianto, setiap keluhan siswa tetap perlu diperhatikan dan dievaluasi, terlebih makanan MBG dikonsumsi oleh banyak siswa setiap hari.
Pihak sekolah kemudian menyampaikan laporan tersebut kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Pihak pengelola SPPG disebut datang ke sekolah untuk menerima informasi langsung mengenai keluhan yang dialami sejumlah siswa.
“Kami melaporkannya ke SPPG. Jadi tim SPPG datang, pengelolanya datang. Saya menyampaikan kejadiannya begitu,” kata Rusdianto.
Dalam pertemuan tersebut, pihak sekolah juga meminta SPPG melakukan evaluasi terhadap proses pengelolaan makanan, terutama memastikan seluruh prosedur dan pengawasan kualitas makanan berjalan dengan baik.
Rusdianto mengatakan, pengelolaan makanan dalam program MBG tentunya memiliki prosedur operasional dan quality control sebelum makanan didistribusikan kepada para siswa.
“Saya bilang jangan sampai ada yang terlewati. Meskipun itu kan wilayahnya mereka,” ujarnya.
Pihak SPPG, lanjut Rusdianto, telah menyampaikan kepada sekolah bahwa makanan tidak akan keluar dari dapur sebelum melalui proses pengecekan.
“Dibilang, ‘Iya, Pak, tidak bisa keluar Pak ini makanan kalau dia tidak melalui pengecekan,’” tuturnya.
Pembelajaran Tetap Berjalan Normal
Di tengah adanya keluhan tersebut, Rusdianto memastikan proses pembelajaran di SMPN 2 Takalar tetap berlangsung seperti biasa.
Bahkan, makanan MBG tetap masuk dan diterima oleh pihak sekolah pada hari berikutnya.
“Yang sekarang alhamdulillah aman ji. Aman berjalan tadi,” katanya. Rusdianto di Ruangan kerjanya (01/09/26)
Rusdianto juga meminta agar kejadian tersebut tidak langsung disimpulkan sebagai keracunan sebelum ada pemeriksaan yang dapat memastikan penyebab keluhan sakit perut tersebut.
Ia menilai, evaluasi tetap diperlukan sebagai langkah antisipasi agar kualitas dan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar terjamin.
“Jadi, artinya ini tetap harus dievaluasi kalau saya, Pak. Harus dievaluasi,” tegasnya.
Orang Tua Siswa: Tidak Ada Keracunan
Keterangan serupa juga disampaikan salah seorang perwakilan orang tua siswa Daeng Tannga yang hadir dalam kesempatan tersebut.
Ia mengatakan, berdasarkan kondisi yang diketahui, tidak ada informasi mengenai siswa yang mengalami keracunan. Keluhan yang muncul hanya berupa sakit perut.
“Tidak ada yang namanya keracunan. Cuma sakit perut saja,” ujarnya.. Selasa 01/09/2026
Dalam kesempatan tersebut juga muncul pembahasan mengenai kemungkinan faktor lain yang dapat memengaruhi kondisi kesehatan siswa, termasuk makanan atau jajanan yang dikonsumsi di luar program MBG.
Rusdianto menyebut di lingkungan sekolah terdapat kantin yang telah lama beroperasi. Namun, ia mengakui bahwa pengujian higienitas terhadap kantin-kantin tersebut tidak dilakukan secara kontinu.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihak sekolah tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab keluhan siswa.
Menurutnya, yang paling penting saat ini adalah memastikan seluruh proses penyediaan makanan MBG dievaluasi dan pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa semakin diperketat.
“Kami hanya menggambarkan kejadiannya bahwa memang ada beberapa yang mengeluh sakit perut,” jelas Rusdianto.
Dengan demikian, pihak SMPN 2 Takalar menegaskan bahwa tidak ada pernyataan resmi dari sekolah mengenai terjadinya keracunan makanan. Yang disampaikan pihak sekolah adalah adanya sejumlah siswa yang mengalami keluhan sakit perut, sehingga perlu menjadi bahan evaluasi bersama dengan pihak SPPG.
Sekolah berharap evaluasi tersebut dapat menjadi langkah pencegahan agar program MBG tetap berjalan dengan baik serta memberikan makanan yang aman dan layak dikonsumsi oleh seluruh siswa.
(Arsyadleo)













