Antrean Panjang dan Kelangkaan BBM Subsidi, Manajer SPBU Kalabirang Tuding Pasokan dari Pertamina Patra Niaga Makassar Dikurangi

TAKALAR, Klikbacanews.id — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar kembali membuat masyarakat resah. Kondisi tersebut terjadi di sejumlah SPBU di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, hingga memicu antrean panjang kendaraan yang harus menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM.

Jumat, 11 September 2026, ratusan warga terlihat mengantre di SPBU Kalabirang. Di bawah terik matahari, kendaraan roda dua maupun roda empat berjejer menunggu giliran mendapatkan bahan bakar.

Bahkan, sejumlah warga mengaku telah menghabiskan waktu hingga empat jam dalam antrean. Kondisi semakin membuat warga kecewa setelah stok Pertalite bersubsidi di SPBU tersebut disebut telah habis.

Di tengah kebutuhan masyarakat yang mendesak, sebagian warga akhirnya terpaksa memilih BBM nonsubsidi jenis Pertamax agar kendaraan mereka tetap dapat digunakan untuk beraktivitas.

Situasi ini menggambarkan betapa sulitnya masyarakat mendapatkan BBM bersubsidi. Bagi warga yang menggantungkan aktivitas sehari-hari pada kendaraan, antrean panjang bukan hanya persoalan waktu, tetapi juga berpotensi mengganggu pekerjaan dan aktivitas ekonomi mereka.

Pertalite Habis, Warga Terpaksa Beralih ke BBM Nonsubsidi

Sejumlah warga yang datang berharap dapat memperoleh Pertalite harus menghadapi kenyataan bahwa stok BBM bersubsidi tersebut telah habis.

Mereka pun dihadapkan pada pilihan: kembali pulang tanpa BBM atau membeli BBM nonsubsidi dengan harga yang lebih tinggi.

Kondisi tersebut menjadi sorotan karena masyarakat yang seharusnya dapat mengakses BBM bersubsidi justru harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean, sementara sebagian lainnya terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli BBM nonsubsidi.

Manajer SPBU: Pasokan Diduga Dikurangi

Sementara itu, Manajer SPBU Kalabirang, Ilyas, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut diduga berkaitan dengan berkurangnya pasokan BBM yang diterima SPBU.

Menurut Ilyas, sebelumnya SPBU Kalabirang mendapatkan pasokan sekitar 16 ton, namun saat ini jumlah tersebut disebut hanya sekitar 8 ton.

«“Mungkin karena pasokan dari PT Pertamina Patra Niaga Makassar dikurangi. Sebelumnya kita 16 ton, kini hanya 8 ton saja,” ujar Ilyas.»

Dengan adanya pengurangan pasokan tersebut, pihak SPBU disebut harus menghadapi tingginya permintaan masyarakat dengan jumlah BBM yang lebih terbatas.

Akibatnya, stok Pertalite lebih cepat habis dan antrean kendaraan semakin panjang.

Rakyat Bertanya: Mengapa Pasokan Berkurang?

Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Jika kebutuhan BBM bersubsidi tetap tinggi, mengapa pasokan yang diterima SPBU justru berkurang hingga setengah dari jumlah sebelumnya?

Pertanyaan tersebut tentu membutuhkan penjelasan dari pihak terkait, khususnya mengenai dasar pengurangan pasokan, mekanisme penyaluran, serta apakah kondisi tersebut bersifat sementara atau merupakan kebijakan distribusi yang berlaku dalam periode tertentu.

Masyarakat juga berharap ada keterbukaan mengenai kondisi stok dan distribusi BBM bersubsidi agar keresahan tidak semakin meluas.

Antrean Panjang Jangan Dianggap Persoalan Biasa

Antrean kendaraan yang mengular di SPBU seharusnya menjadi perhatian serius. Sebab, di balik panjangnya antrean tersebut terdapat masyarakat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada pekerja yang harus segera berangkat bekerja, pedagang yang membutuhkan kendaraan untuk menjalankan usahanya, hingga masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk berbagai kebutuhan keluarga.

Ketika waktu berjam-jam harus dihabiskan hanya untuk mendapatkan BBM, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah dan pihak terkait diharapkan tidak hanya melihat persoalan dari sisi distribusi di atas kertas, tetapi juga turun langsung melihat kondisi yang terjadi di lapangan.

Pertamina Patra Niaga Diharapkan Beri Penjelasan

Pernyataan Manajer SPBU Kalabirang mengenai dugaan berkurangnya pasokan dari Pertamina Patra Niaga Makassar tentu membutuhkan klarifikasi dari pihak Pertamina Patra Niaga.

Apakah benar terjadi pengurangan pasokan dari sebelumnya 16 ton menjadi 8 ton? Jika benar, apa penyebab dan dasar kebijakan tersebut? Dan bagaimana langkah yang disiapkan untuk memastikan kebutuhan BBM masyarakat Kabupaten Takalar tetap terpenuhi?

Klarifikasi tersebut penting agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan tidak hanya menerima informasi dari satu pihak.

Pemerintah Diminta Hadir Melihat Kondisi Warga

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan pengecekan terhadap kondisi distribusi BBM bersubsidi di Kabupaten Takalar.

Jika persoalan berada pada pasokan, maka diperlukan koordinasi dengan pihak Pertamina agar kebutuhan masyarakat dapat segera ditangani.

Namun apabila terdapat persoalan lain dalam rantai distribusi, masyarakat juga meminta agar dilakukan pengawasan secara menyeluruh.

Sebab, BBM bersubsidi merupakan kebutuhan masyarakat yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

Antrean empat jam di bawah terik matahari bukan sekadar angka. Di balik antrean itu ada waktu kerja yang hilang, aktivitas yang tertunda, dan keresahan masyarakat yang membutuhkan kepastian.

Kini publik menunggu penjelasan resmi: mengapa pasokan BBM bersubsidi ke SPBU Kalabirang disebut turun dari 16 ton menjadi 8 ton, dan kapan kondisi antrean panjang ini dapat kembali normal?

(Arsyadleo)