Malam Pembukaan Festival Pesantren, Daeng Manye Ungkap Asal-usul Gagasan dan Bentuk Forum Komunikasi 24 Ponpes Takalar

TAKALAR, Klikbacanews.id — Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, mengungkapkan perjalanan lahirnya gagasan Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar yang digelar bertepatan dengan momentum Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi 24 pondok pesantren untuk menampilkan kreativitas, mempererat silaturahmi, serta memperkuat kontribusi pendidikan Islam terhadap pembangunan daerah.

Dalam sambutannya pada malam pembukaan pergelaran seni Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar, Daeng Manye menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari kunjungannya ke sejumlah pondok pesantren yang menggelar pagelaran seni.

Sekitar satu setengah hingga dua bulan sebelum festival berlangsung, dirinya menghadiri pagelaran seni di Pondok Pesantren Nurul Asafa. Pertunjukan yang disaksikannya sejak awal hingga akhir itu memberikan kesan mendalam dan menumbuhkan keyakinan bahwa potensi santri Takalar layak mendapatkan panggung yang lebih luas.

“Saya melihat, luar biasa pertunjukan pagelaran ini. Malam itu juga saya sampaikan kepada pimpinan pondok pesantren bahwa Insyaallah Takalar akan mengadakan Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar,” ungkapnya.

Gagasan tersebut semakin kuat setelah Daeng Manye menghadiri kegiatan serupa di Pondok Pesantren Mahyatul Qur’an, Bilasa. Dari kedua pengalaman itu, ia melihat besarnya potensi seni, kreativitas, dan kualitas pendidikan yang berkembang di lingkungan pesantren.

Momentum Hari Santri Nasional pada 22 Oktober kemudian dipandang sebagai waktu yang tepat untuk merealisasikan gagasan tersebut.

Santri Takalar Tunjukkan Potensi dan Kreativitas

Daeng Manye memberikan apresiasi kepada para santri dan pengelola pondok pesantren yang terlibat langsung dalam menyiapkan festival.

Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan ini memperlihatkan bahwa santri tidak hanya memiliki kemampuan dalam bidang keagamaan, tetapi juga mampu berkontribusi dalam desain panggung, penataan acara, pencahayaan, dekorasi, hingga pengisian rangkaian kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa berbagai aspek penyelenggaraan festival turut dikelola oleh kalangan pondok pesantren sendiri.

Hal tersebut menunjukkan potensi sumber daya manusia di lingkungan pesantren, sekaligus kemampuan para santri untuk bekerja sama, berinovasi, dan mengelola kegiatan berskala besar.

Bupati juga menilai pondok pesantren tidak semata-mata menjadi lembaga pendidikan agama. Lebih dari itu, pesantren merupakan pusat pembentukan moral, pengembangan karakter, pembelajaran, serta pertumbuhan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk menghadapi perkembangan zaman.

24 Pondok Pesantren Didorong Semakin Mandiri

Dalam sambutannya, Daeng Manye menyoroti keberadaan 24 pondok pesantren di Kabupaten Takalar yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Ia berharap seluruh pesantren semakin kompetitif, mandiri, bersatu, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan dan pembangunan daerah.

Festival ini, lanjutnya, tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial yang hanya menghadirkan kemeriahan selama pelaksanaan acara.

Sebaliknya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi awal dari gerakan bersama untuk membangun komunikasi, memperluas kerja sama, serta mengembangkan potensi pesantren secara lebih terarah dan sistematis.

Pertemuan antarpesantren dalam festival ini juga menjadi sarana memperkuat hubungan antara pimpinan pesantren, para santri, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Bentuk Forum Komunikasi Pesantren

Salah satu poin penting dalam sambutan Daeng Manye adalah pembentukan Forum Komunikasi dan Silaturahmi Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar.

Forum ini diharapkan menjadi wadah bagi para pimpinan pesantren untuk berdiskusi, bertukar pengalaman, menyampaikan gagasan, serta merumuskan langkah bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren.

Daeng Manye menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi agar pengembangan pesantren tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan melalui sinergi yang berkelanjutan.

Ia juga menyinggung keberadaan Direktorat Jenderal Pesantren di Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai peluang untuk memperkuat hubungan dan komunikasi dalam pengembangan pendidikan pesantren.

Dengan adanya forum tersebut, kebutuhan, potensi, dan program pengembangan pesantren di Takalar diharapkan dapat dikomunikasikan dengan lebih baik.

Festival Menjadi Awal Kolaborasi

Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa kolaborasi antara pesantren, pemerintah daerah, dan masyarakat dapat membuka ruang yang lebih besar bagi perkembangan santri.

Melalui kegiatan ini, santri memperoleh kesempatan untuk menunjukkan kemampuan, sementara antarpesantren dapat saling mengenal dan membangun kerja sama.

Gagasan yang disampaikan Daeng Manye tersebut menempatkan pesantren sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah, terutama dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, kreatif, mandiri, dan berdaya saing.

Festival ini diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan tentang kemeriahan panggung seni, tetapi juga melahirkan kolaborasi nyata yang berkelanjutan.

Dari pesantren, Takalar membangun karakter. Dari kreativitas santri, lahir potensi. Dan melalui kebersamaan, pendidikan Islam diharapkan semakin berdaya untuk mendorong kemajuan daerah.

(Arsyadleo)