Bupati Daeng Manye Tutup Festival Pondok Pesantren Takalar 2026, Al-Imam Al-Jazari Borong Prestasi

TAKALAR, Klikbaca news id – Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, resmi menutup rangkaian Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar 2026 yang berlangsung selama tiga malam, 22–24 Oktober 2026, di Lapangan Kantor Bupati Takalar. Kegiatan yang digagas Bupati Daeng Manye tersebut mendapat sambutan antusias dari para santri, pimpinan pondok pesantren, serta masyarakat yang hadir menyaksikan berbagai pertunjukan dan perlombaan.

Malam penutupan festival berlangsung meriah dengan pengumuman pemenang berbagai cabang lomba, mulai dari nasyid, seni bebas kreasi, video terbaik di YouTube, hingga stan pameran pondok pesantren.

Pondok Pesantren Tahfizul Quran Al-Imam Al-Jazari menjadi salah satu pesantren yang mencuri perhatian setelah meraih Juara I kategori video terbaik di YouTube serta Juara I stan pameran terbaik.

Dalam sambutannya, Bupati Daeng Manye menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia, pimpinan pondok pesantren, pengasuh, dan santri yang telah berpartisipasi menyukseskan festival tersebut.

Ia mengungkapkan, kegiatan ini dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, sekitar 45 hari sejak pembicaraan awal hingga pelaksanaan. Namun, berkat kerja sama antara pimpinan pondok pesantren, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kabupaten Takalar, festival dapat terlaksana dengan baik.

“Antusiasme penonton luar biasa. Masing-masing pondok mengirimkan pendukungnya untuk memberikan semangat kepada teman-temannya agar tampil baik, penuh semangat, ceria, dan gembira,” ungkap Daeng Manye dalam sambutannya.

Menurutnya, antusiasme tersebut menunjukkan besarnya semangat kebersamaan di antara keluarga besar pondok pesantren di Kabupaten Takalar.

Daeng Manye Pastikan Festival Digelar Setiap Tahun

Bupati Daeng Manye menegaskan komitmennya untuk menjadikan Festival Pondok Pesantren sebagai agenda tahunan selama dirinya menjabat sebagai Bupati Takalar.

Bupati Takalar Daeng Manye 

Ia menjelaskan, festival ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang pertemuan bagi para pimpinan pondok pesantren, pengasuh, dan santri untuk mempererat silaturahmi, bertukar gagasan, serta mengembangkan potensi generasi muda.

“Sepanjang saya menjabat sebagai Bupati Takalar, insyaallah Festival Pondok Pesantren ini akan terus dilaksanakan. Tahun ini menjadi penyelenggaraan pertama, dan tahun depan serta seterusnya kita berharap kegiatan ini semakin baik dan menarik,” tegasnya.

Daeng Manye juga menyampaikan bahwa sejumlah masukan telah diterima untuk pengembangan festival pada tahun mendatang. Di antaranya, penambahan kategori perlombaan seperti tahfiz Al-Qur’an, kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta berbagai bentuk kreativitas lainnya.

Masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi agar penyelenggaraan festival berikutnya semakin beragam dan mampu memberikan ruang lebih luas bagi pengembangan bakat para santri.

Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa

Dalam sambutannya, Daeng Manye menekankan pentingnya peran pondok pesantren dalam membentuk generasi yang berakhlak, berpengetahuan, berintegritas, dan memiliki karakter kuat.

Menurutnya, pembangunan suatu daerah maupun bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan ekonomi. Peningkatan kualitas intelektual, moral, dan mental generasi muda juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan.

Ia menyebut pondok pesantren sebagai salah satu benteng moral yang memiliki peran strategis dalam membangun sumber daya manusia.

“Ketika terjadi kemiskinan intelektual, integritas, dan karakter, bangsa itu mempertaruhkan masa depannya. Di sinilah pondok pesantren memiliki peran sebagai benteng moral, dan masa depan bangsa juga berada di tangan para santri,” tuturnya.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Takalar, lanjutnya, akan terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan kemandirian pesantren agar mampu melahirkan santri yang memiliki kompetensi serta siap menghadapi tantangan zaman.

Transaksi Stan Pameran Capai Rp1,5 Juta per Hari

Festival Pondok Pesantren Takalar 2026 juga memberikan ruang bagi pengembangan usaha dan kreativitas ekonomi melalui pameran produk pesantren dan UMKM.

Daeng Manye mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan yang diterimanya, transaksi di stan pameran berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.

Menurutnya, pameran tersebut menjadi kesempatan bagi para santri dan pondok pesantren untuk memperkenalkan produk masing-masing sekaligus mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan.

“Ini juga luar biasa. Terbuka kesempatan bagi anak-anak kita untuk berkreasi melalui UMKM. Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga memberikan tambahan nilai ekonomi bagi mereka dan pondok pesantren,” ujarnya.

Ia berharap ke depan setiap pondok pesantren semakin mampu mengembangkan produk unggulan dan membangun kemandirian ekonomi yang dapat mendukung kegiatan pendidikan.

Al-Imam Al-Jazari Raih Video Terbaik dan Stan Pameran Terbaik

Salah satu momen yang dinantikan dalam malam penutupan adalah pengumuman pemenang lomba video terbaik di YouTube. Dalam kategori tersebut, Pondok Pesantren Tahfizul Quran Al-Imam Al-Jazari meraih Juara I dengan perolehan 2.900 tanda suka (like) dan skor 1.100.

Posisi berikutnya ditempati Pondok Pesantren Nurul Asyifah Islamic Boarding School dengan 2.100 tanda suka dan skor 900. Sementara Pondok Pesantren Mahyatul Ulum meraih posisi ketiga dengan skor 800.

Adapun Juara Harapan I diraih Pondok Pesantren Tarbiyah Takwa dengan 689 tanda suka dan skor 750. Juara Harapan II diberikan kepada Pondok Pesantren Tahfizul Quran Al-Raian dengan 143 tanda suka dan skor 650.

Selain kategori video, panitia juga mengumumkan pemenang lomba stan pameran yang penilaiannya dilakukan langsung oleh Ibu Bupati Takalar.

Pondok Pesantren Tahfizul Quran Al-Imam Al-Jazari kembali meraih prestasi dengan menempati Juara I stan pameran terbaik dengan nilai 709 poin.

Pondok Modern Tarbiyah Palleko meraih Juara II dengan nilai 677 poin, sedangkan Pondok Pesantren Khairun Nisa Galesong memperoleh Juara III dengan nilai 620 poin.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa festival tidak hanya memberi ruang bagi pertunjukan seni, tetapi juga mendorong kreativitas santri dalam memanfaatkan media digital dan mengembangkan potensi kewirausahaan.

Pengumuman Pemenang Disambut Meriah

Suasana malam penutupan semakin semarak saat pembawa acara mengumumkan para pemenang lomba nasyid dan seni bebas kreasi.

Untuk lomba nasyid, berdasarkan pengumuman yang terdengar dalam rekaman, Juara Harapan II diraih Pondok Pesantren Abdul Jalil Tuma dengan nilai 184, sedangkan Juara Harapan I diraih Pondok Pesantren As-Salam dengan nilai 204.

Juara III diraih Pondok Pesantren Darul Asyafa dengan nilai 209, sementara Juara II diraih Pondok Pesantren Takmila dengan nilai 220. Nama dan nilai pemenang Juara I masih perlu dikonfirmasi dari panitia.

Pada kategori seni bebas kreasi, Pondok Pesantren Mizanul Ulum Santrawari meraih Juara Harapan I dengan nilai 190. Juara III diraih Pondok Pesantren As-Salamki dengan nilai 201, sedangkan Juara II diraih Pondok Pesantren Modern Nurul Asyifah dengan nilai 230.

Adapun Juara I kategori seni bebas kreasi diraih Pondok Pesantren PPTKI Tahfizul Quran Al-Imam Al-Jazari dengan nilai 288.

Pengumuman para pemenang menjadi puncak persaingan setelah para peserta menampilkan kreativitas masing-masing sejak malam pembukaan hingga malam penutupan.

Bupati Daeng Manye mengajak seluruh peserta menerima hasil perlombaan dengan lapang dada. Ia menegaskan bahwa setiap penampilan merupakan karya yang patut dihargai, terlepas dari hasil akhir penilaian.

Penyerahan Hadiah kepada Para Pemenang

Setelah pengumuman pemenang, rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi penyerahan hadiah kepada para peserta yang berhasil meraih prestasi di berbagai cabang perlombaan.

Pembawa acara mengundang Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye bersama Ibu Bupati Takalar, didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan Kementerian Agama, serta Ketua Panitia untuk menyerahkan hadiah kepada para pemenang.

Prosesi tersebut menjadi bentuk apresiasi atas kerja keras, bakat, dan kreativitas para santri yang telah berpartisipasi dalam festival.

Bupati Daeng Manye juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan kegiatan dalam waktu relatif singkat. Ia menilai pengalaman penyelenggaraan perdana ini menjadi bekal penting untuk melakukan evaluasi dan perbaikan pada tahun berikutnya.

Ia turut mengapresiasi para pimpinan pondok pesantren, pengasuh, santri, tokoh masyarakat, ulama, Forkopimda, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan.

Diharapkan Menjadi Inspirasi bagi Daerah Lain

Daeng Manye berharap Festival Pondok Pesantren Takalar dapat terus berkembang sebagai wadah pendidikan, penguatan karakter, pengembangan seni, pemanfaatan teknologi digital, serta pemberdayaan ekonomi pesantren.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut telah mendapat perhatian masyarakat melalui siaran langsung di media sosial sehingga gaungnya dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

Menurutnya, festival ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengembangkan kegiatan yang memberikan ruang bagi kreativitas dan prestasi santri.

Melalui penyelenggaraan perdana ini, Pemerintah Kabupaten Takalar berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, dan seluruh pondok pesantren untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta kemandirian pesantren.

Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar 2026 pun menjadi momentum mempererat persaudaraan antarsantri sekaligus menegaskan pentingnya peran pesantren dalam membentuk generasi yang berakhlak, kreatif, berprestasi, dan mandiri.

(Arsyadleo)