TAKALAR, Klikbaca news.id – Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye, memastikan Festival Pondok Pesantren se-Kabupaten Takalar akan menjadi agenda tahunan selama dirinya menjabat sebagai bupati. Komitmen tersebut disampaikan saat malam penutupan festival yang berlangsung meriah dengan antusiasme luar biasa dari para santri dan pendukung masing-masing pondok pesantren.
Festival yang digagas Bupati Daeng Manye ini menjadi ruang bagi para santri untuk menunjukkan kreativitas, bakat, inovasi, serta kemampuan mereka melalui berbagai pertunjukan seni dan perlombaan.
Dalam sambutannya, Daeng Manye mengungkapkan rasa bangga atas semangat para peserta dan dukungan para penonton yang memenuhi lokasi kegiatan selama tiga malam pelaksanaan festival.
Menurutnya, setiap pondok pesantren mengirimkan pendukung masing-masing untuk memberikan semangat kepada peserta yang tampil. Suasana tersebut mencerminkan kebersamaan, sportivitas, serta kegembiraan para santri dalam mengikuti kegiatan.
“Saya melihat antusiasme penonton luar biasa. Masing-masing pondok mengirimkan pendukungnya untuk memberikan semangat kepada teman-temannya agar tampil baik, penuh semangat, ceria, dan gembira,” ungkapnya.
Daeng Manye menjelaskan, penyelenggaraan festival tersebut dipersiapkan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar 45 hari sejak pembicaraan awal hingga pelaksanaan kegiatan.
Meski demikian, berkat kerja cepat dan kolaborasi panitia yang melibatkan unsur pimpinan pondok pesantren, Kementerian Agama, serta Pemerintah Kabupaten Takalar, festival dapat terlaksana dengan baik dan mendapat sambutan positif dari masyarakat.
Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras, termasuk dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan hingga malam penutupan.
“Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Panitianya kompak dan bekerja dengan baik. Insyaallah, tahun depan akan lebih bagus lagi karena kita sudah memiliki pengalaman dan gambaran untuk melakukan berbagai perbaikan,” ujarnya.
Dipastikan Menjadi Agenda Tahunan
Bupati Daeng Manye menegaskan bahwa Festival Pondok Pesantren bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan wadah untuk mempertemukan para pimpinan pondok, pengasuh, dan santri dalam membangun kebersamaan serta bertukar gagasan.
Ia menyebutkan, sejumlah masukan telah disampaikan dalam seminar dan evaluasi kegiatan, termasuk usulan penambahan cabang kreativitas dan kompetisi pada penyelenggaraan berikutnya.
Beberapa di antaranya adalah tahfiz Al-Qur’an, kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta berbagai bentuk kreativitas lain yang dapat mengembangkan potensi santri.
“Sepanjang saya menjabat sebagai Bupati Takalar, insyaallah Festival Pondok Pesantren ini akan terus dilaksanakan. Tahun ini menjadi penyelenggaraan pertama, dan tahun depan serta seterusnya kita berharap kegiatan ini semakin baik dan menarik,” tegasnya.
Ia berharap, pengembangan kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan pesantren sekaligus mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.
Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa
Lebih lanjut, Daeng Manye menekankan pentingnya peran pondok pesantren sebagai benteng moral bangsa. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi juga harus diimbangi dengan penguatan intelektualitas, integritas, karakter, dan mental generasi muda.
Ia mengingatkan bahwa kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga dapat menyangkut pengetahuan, moral, dan mental.
Karena itu, pendidikan pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi yang berakhlak, berpengetahuan, mandiri, dan mampu berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun bangsa.
“Ketika terjadi kemiskinan intelektual, integritas, dan karakter, bangsa itu mempertaruhkan masa depannya. Di sinilah pondok pesantren memiliki peran sebagai benteng moral, sementara masa depan bangsa juga berada di tangan para santri,” tuturnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Takalar akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pendidikan pesantren dan mendorong sinergi bersama para pimpinan pondok untuk memajukan daerah.
Pameran UMKM Catat Transaksi hingga Rp1,5 Juta per Hari
Tidak hanya menampilkan kreativitas santri, Festival Pondok Pesantren juga memberikan dampak ekonomi melalui pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Daeng Manye mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan yang disampaikan, transaksi di sejumlah stan pameran berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per hari.
Menurutnya, capaian tersebut menjadi salah satu nilai tambah penyelenggaraan festival karena membuka kesempatan bagi para santri dan pondok pesantren untuk memperkenalkan produk unggulan masing-masing.
Ia berharap, ke depan setiap pondok pesantren dapat semakin mengembangkan produk kreatif dan usaha mandiri sehingga kegiatan pendidikan juga dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.
“Ini juga luar biasa karena terbuka kesempatan bagi anak-anak kita untuk berkreasi melalui UMKM. Kegiatan ini bukan hanya menjadi ajang kreativitas, tetapi juga memberikan tambahan nilai ekonomi bagi mereka dan pondok pesantren,” jelasnya.
Optimistis Menjadi Contoh bagi Daerah Lain
Bupati Takalar juga mengapresiasi seluruh pimpinan pondok pesantren, pengasuh, santri, tokoh masyarakat, ulama, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival.
Ia mengaku mengikuti rangkaian pertunjukan sejak malam pembukaan, malam kedua, hingga malam penutupan. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk menyaksikan langsung kreativitas dan penampilan para santri dari berbagai pondok pesantren.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat, termasuk perhatian melalui siaran langsung di media sosial, menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memperoleh sambutan luas.
Daeng Manye berharap Festival Pondok Pesantren Takalar dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menghadirkan kegiatan yang menggabungkan pendidikan, kebudayaan, pengembangan karakter, serta pemberdayaan ekonomi.
Menjelang pengumuman pemenang, ia juga mengajak seluruh peserta menerima hasil perlombaan dengan lapang dada. Menurutnya, setiap penampilan merupakan karya dan kebanggaan santri Takalar.
Ia menilai persaingan yang ketat menunjukkan bahwa para peserta memiliki kemampuan dan kreativitas yang patut diapresiasi.
Dengan berakhirnya penyelenggaraan perdana ini, Pemerintah Kabupaten Takalar berharap Festival Pondok Pesantren dapat menjadi ruang berkelanjutan untuk melahirkan santri yang unggul, berkarakter, kreatif, dan mandiri, sekaligus memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan daerah.
(Arsyadleo)













