TAKALAR,Klikbacanews.id – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Takalar menyampaikan pernyataan sikap tegas terkait pemberitaan dan sampul majalah yang dinilai tendensius dan manipulatif terhadap partai politik.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris DPD NasDem Takalar, Abdul Hakim, saat menggelar jumpa pers di Rumah Aspirasi H. Achmad Daeng Se’re, Jalan Khaeruddin Daeng Ngampa, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Rabu (15/4/2026).
Dalam penyampaian pernyataan sikapnya, Abdul Hakim turut didampingi oleh Fraksi Anggota DPRD NasDem Takalar, Nur Alim Rukman dan Ahmad Sabang, serta jajaran pengurus DPD NasDem Takalar.
Dalam pernyataan bertajuk “Melawan Framing Menyesatkan, Menjaga Martabat Demokrasi”, NasDem Takalar menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dibajak oleh narasi yang menyesatkan.
“Demokrasi tidak boleh dibajak oleh narasi yang menyesatkan. Kebebasan pers tidak boleh dijadikan tameng untuk membangun persepsi yang keliru dan merendahkan kehormatan institusi politik,” ujar Abdul Hakim.
DPD NasDem Takalar menilai pemberitaan yang beredar telah melampaui batas kritik dan berubah menjadi framing yang menggiring opini publik.
Menurut Abdul Hakim, narasi tersebut mengandung penghakiman sepihak yang tidak berbasis fakta utuh, serta berupaya membangun persepsi bahwa politik semata-mata adalah transaksi kekuasaan.
“Ini adalah penyederhanaan berbahaya yang mencederai akal sehat publik,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya juga mengecam penggunaan metafora yang menyamakan partai politik dengan korporasi.
Hal tersebut dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap institusi demokrasi serta pengerdilan makna partai sebagai representasi kedaulatan rakyat.
“Partai politik bukan perusahaan. Partai politik adalah wadah perjuangan gagasan, ideologi, dan harapan rakyat,” lanjutnya.
Meski demikian, NasDem Takalar menegaskan tetap menghormati kebebasan pers, namun mengingatkan bahwa kebebasan tersebut harus disertai tanggung jawab.
Pers, kata Abdul Hakim, memiliki kewajiban moral untuk mencerahkan publik, bukan menyesatkan melalui narasi spekulatif yang dikemas dramatis.
“Jika media bermain di wilayah persepsi tanpa pijakan fakta yang kuat, maka yang lahir bukan kontrol sosial, melainkan distorsi realitas,” ujarnya.
Dalam sikapnya, DPD NasDem Takalar mendesak adanya klarifikasi terbuka kepada publik serta evaluasi serius terhadap produk jurnalistik yang dianggap melampaui batas etika.
Mereka juga menekankan pentingnya prinsip cover both sides dan akurasi informasi dalam setiap pemberitaan.
Sebagai langkah lanjutan, NasDem Takalar menyatakan akan melakukan konsolidasi gerakan politik dan moral sebagai bentuk perlawanan terhadap narasi yang dinilai menyesatkan.
Di sisi lain, masyarakat diajak untuk lebih kritis dalam menyikapi informasi serta tidak mudah terpengaruh oleh framing sensasional.
“Demokrasi yang sehat lahir dari publik yang sadar, bukan publik yang digiring,” tutup Abdul Hakim.
(Leo)












