Takalar,Klikbacanews.id – Di tengah kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, SMPN 1 Takalar justru sudah selangkah lebih maju.
Sekolah ini telah lebih dulu menerapkan sistem pembelajaran tanpa ketergantungan pada handphone (HP) siswa, jauh sebelum aturan tersebut diberlakukan.
Kepala SMPN 1 Takalar, H. Jufri Abdullah, menegaskan penggunaan teknologi harus disikapi dengan bijak.
“Teknologi ini ibarat pisau bermata dua. Manfaatnya besar, tapi kalau tidak diawasi dengan baik, dampak negatifnya juga besar bagi anak,” ujarnya. (30/03/26)
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pihak sekolah mengambil langkah lebih awal dalam mengontrol penggunaan gadget siswa.
“Makanya kami sudah menyikapi jauh sebelum aturan ini muncul,” jelasnya.
Di SMPN 1 Takalar, siswa tidak diwajibkan membawa HP ke sekolah.
Penggunaan gadget dikontrol langsung oleh guru, sementara pengawasan juga melibatkan orang tua.
“Kami bersama orang tua sama-sama mengawasi penggunaan gadget anak-anak,” tambahnya.
Sebagai gantinya, sekolah menerapkan absensi digital menggunakan ID Card barcode. Sistem ini juga digunakan oleh guru dan pegawai untuk memantau aktivitas harian.
Sementara itu, guru SMPN 1 Takalar, Inna, menegaskan pembatasan gadget bukan hambatan dalam pembelajaran.
“Sebagai guru, kita harus adaptif. Walaupun siswa tidak membawa HP, pembelajaran digital tetap bisa berjalan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, guru memanfaatkan platform pendidikan seperti Rumah Pendidikan serta papan interaktif digital di kelas.
“Justru ini membuat guru lebih kreatif dalam mengajar,” katanya.
Dengan langkah tersebut, SMPN 1 Takalar dinilai siap menghadapi kebijakan pembatasan media sosial sekaligus tetap mendorong pembelajaran berbasis digital secara terkontrol.
(Leo)












